Jan 7, 2015

[Road Less Traveled] Kabil, Eksplorasi di Ujung Timur Batam

Tampak keren rusun kami di Kabil (©Christian Daryanto Limas)

Sebelumnya saya pernah bercerita tentang pengalaman bagaimana kehidupan di "Papua-nya Batam". Kali ini akan menceritakan tentang eksplorasi keadaan daerah sekitar Kabil. Lalu bagaimana kami sebagai anak-anak pinggiran pulau untuk mencapai peradaban.

Saya memang sudah terbiasa hidup sebagai suburban ibu kota, di mana segala sesuatu terasa lebih ekstrim. Butuh perjuangan ekstra bila ingin mencapai peradaban. Selain karena jaraknya yang cukup jauh ke pusat kota, macet tentu saja selalu menjadi kendala utama para penghuni Jakarta dan sekitarnya.

Yah, intinya saya sudah cukup elus dada dengan hal-hal seperti itu. Jadi secara mental dan kesabaran, saya sudah siap untuk tinggal di pulau Batam yang saya pikir tidak tertinggal jauh dari ibu kota negara.

Namun bagaimana kalau ternyata hidupnya bukan di pinggiran kota, tapi malah di pinggiran pulau? Saya sama sekali tidak menyangka sebelumnya kalau daerah Kabil yang bakal saya tinggali selama 5 bulan ke depan ini adalah kawasan industri, yang tampak wajahnya saja sudah seperti planet Mars.

Jarang sekali ada pengunjung luar kota yang berkunjung ke Kabil, kecuali mereka yang benar-benar punya kepentingan, seperti para pekerja pabrik dan para warga yang memiliki hunian di sekitar sini. Namun, itupun sangat-sangat jarang sekali. Seperti salah satu teman kampus saya yang sejak kecil hingga SMA hidup di Batam, tapi dia tidak pernah ke Kabil sama sekali.

Saya maklumi saja. Bukan karena dia tidak gaul, namun memang di Kabil ini tidak ada apa-apa, kecuali perbukitan dengan beberapa lahannya yang diselimuti pepohonan yang tidak jauh dari pantai.

Kabil atau Planet Mars?
Di antara bukit dan pepohonan itu tentu masih banyak daerah yang belum terjamah. Sebagian besar memang sudah disulap menjadi lapangan tanah merah oleh pabrik-pabrik. Sebagiannya lagi sudah dijadikan pemukiman warga kampung. Namun ada saja tempat-tempat misterius yang tidak jelas ada apa di sana.

Contohnya seperti yang ada di depan pertigaan rusun kami dengan jalan raya Hang Kesturi. Tidak jauh dari pertigaan itu ada sebuah warung tenda pinggir jalan tempat kami biasa makan malam. Semilir angin malam menghantarkan dentuman lagu-lagu yang terdengar cukup jelas meski sayup-sayup. Lagu sejenis musik hidup (dangdut koplo) berkumandang dari balik bukit yang dipagari kawat di setiap sisinya.

Terkadang ada beberapa mobil terlihat masuk satu-persatu lewat pagar kawat yang terbuka. Rumor pun beredar ke telinga para pendatang baru seperti saya. Ada yang bilang kalau di balik bukit itu ada tempat "hiburan" untuk kaum menengah ke bawah. Ada benarnya juga mengingat Kabil ini adalah daerah "pinggiran".

Bila kami sudah mulai merasa bosan di rusun, mau belanja kebutuhan, atau sekadar ingin merasakan suasana peradaban yang lebih maju, maka kami harus siap menempuh jalan cukup jauh yang memakan waktu sekitar 1 setengah jam dengan angkutan umum (angkot) untuk sampai ke Nagoya Hill Mall (bukan yang di Jepang).

Lama menunggu kedatangannya? Tergantung seberapa beruntungnya kami saat itu. Kadang langsung dapat, kadang bisa setengah jam kemudian.

Pusat peradaban Batam (Sumber: loves-jing.blogspot.com)

Interior Nagoya Hill Mall (©Didi Sadili)

Tidak semua angkot di Batam seperti angkot-angkot di Jakarta yang ada nomor trayeknya. Untuk membedakan trayek jurusannya, mereka memakai warna yang berbeda-beda. Contohnya, pink (Nongsa-Jodoh), orange (Jodoh-Punggur), dan selebihnya dapat dilihat di sini.

Namun sayangnya, khusus jalan raya depan rusun kami (Punggur-Batu Besar) yang ada hanya angkot "jadi-jadian". Kemunculannya gentayangan dan sangat tidak jelas waktunya. Suka-suka si sopir, kalau lagi mau.. ya narik..kalau lagi nggak... ya siap-siap cari ojek yang waktu munculnya seperti komet Halley.

Dengan mengandalkan angkot "jadi-jadian" itu, maka kepulangan kami dari kota pun seperti dijadwalkan. Tidak boleh pulang terlalu malam, batas pukul 19:30 WIB. Lebih dari itu, maka kami harus berkompromi dengan si sopir untuk men-charter angkotnya hingga tiba ke rusun.

Lain halnya ketika kami dalam keadaan penting atau ada acara-acara tertentu. Mengandalkan angkot "jadi-jadian" bukanlah pilihan tepat di saat seperti itu. Oleh karena itu, masing-masing penghuni rusun sudah memiliki backup plan, yaitu dengan menyimpan beberapa nomor kontak sopir angkot, sopir ojek, sewa teksi, dan rental mobil.

Angkot pinky yang mengantarkan kami ke peradaban.
Trayek Nongsa (Batu Besar) - Jodoh
(Sumber: batamforinfo2.wordpress.com)

 
Angkot "jadi-jadian" dengan keadaannya yang pasti ringsek
Trayek Punggur - Nongsa (Batu Besar)
(Sumber: batamforinfo2.wordpress.com)

Untuk urusan sewa teksi (sebutan taksi di Batam) di sini tidak boleh sembarangan. Mayoritas teksi-teksi yang bertebaran di jalan raya, bahkan di depan mall adalah teksi tembakan alias gelap/non-resmi. Mudah sekali terlihat dari rupanya yang sama persis seperti mobil sedan pribadi.

Tanpa stiker logo perusahaan di pintu mobil, tidak ada lampu di atap mobil, dan plat nomornya saja warna hitam. Lupakan tarif argo, karena sistem tarif mereka adalah borongan alias sudah dipatok harganya.

Kamu bisa saja nego harga dengan si sopir sesuai kesepakatan, siapa tahu dapat harga lebih murah. Tentu saja ada alternatif teksi-teksi resmi lainnya meski jarang terlihat, seperti Barelang Ekspress, Jala, dll.

Ada kabar terbaru mengenai teksi. Perusahaan taksi yang sudah menjadi kepercayaan kalian di ibu kota selama ini telah membuka cabangnya di Batam. Taksi biru berlogo burung biru tersebut mulai beroperasi sejak pertengahan tahun 2013 lalu. Namun ternyata kehadiran taksi ini menuai protes dari kalangan sopir-sopir teksi di Batam. Berita selebihnya bisa dilihat di sini.

Merk teksi yang cuma ada di Batam (Sumber: haluanmedia.com)

Demonstrasi Ratusan Supir Teksi Batam (Sumber: tribunnews.com)
Berita dan foto selengkapnya di link ini:

Jalan raya sepanjang 8 km yang bernama Hang Kesturi ini memang sepi pemukiman dan peradaban. Faktanya, apa yang kami lihat di sekitar rusun kami ini adalah barang baru. Rumah susun sewa (rusunawa) berwarna hijau yang kami huni ini ternyata baru berumur setengah tahun (mid 2012) sejak kedatangan saya kemari.

Berterima kasihlah pada pak presiden SBY yang pada saat itu telah hadir ke Kabil dan meresmikan rusunawa milik PT Jamsostek ini. Bila beliau tidak hadir, maka jalan raya yang bernama Hang Kesturi ini juga tidak akan ada sampai kapanpun juga.

Pernah suatu hari, saya dan kedua teman yang sama-sama mempunyai masalah dalam rasa ingin tahu memutuskan untuk mengeksplor bukit merah yang berada 1 km dari rusun kami. Jalan-jalan iseng ini membawa kami berjalan di sebuah gurun tanah merah yang seluas puluhan lapangan sepak bola.

Dari puncak bukit saya dapat menyaksikan sendiri lahan-lahan hutan yang dibabat habis ulah pabrik-pabrik di sekitar hanya demi mengambil tanah merah. Kemudian berton-ton tanah merah tersebut diangkut oleh truk-truk tanah ke bibir pantai untuk mereklamasi pantai demi perluasan lahan pabrik. 

Padahal tidak jauh dari situ terdapat Kampung Tua. Ialah kampung nelayan yang masih alami terasa kekentalan masyarakat dan budaya Melayunya. Terlihat dari pintu masuk gapura di setiap gang dan arsitektur perumahannya yang memiliki ciri khusus. Di dekat Kampung Tua itu juga terdapat wisata Pantai Sekilak yang menjadi salah satu pesona di timur Batam. Faktanya sangat miris sekali mengingat lokasi wisata bersejarah ini terjepit di antara kawasan industri.

Rasa ingin tahu kami memang bermasalah

Semuanya dibabat habis

Jangan biarkan industri merusak kampung ini
(Sumber: skpd.batamkota.go.id/nongsa/kampung-tua/)

Suasananya masih Melayu
(Sumber: skpd.batamkota.go.id/nongsa/kampung-tua/)

Entah berapa puluh tahun kemudian nanti muncul sebuah mitos di mana orang-orang di daerah Kabil ini pernah mendengar, bahwa di sekitar sini pernah ada pantai yang sangat indah dan tenang. Namun, orang-orang itu hanya bisa menggaruk-garuk kepala sambil meratapi nasib lingkungannya yang sudah terlanjur rusak.


NOTE (nggak penting):
Batam merupakan salah satu daerah di Indo yang telah menggunakan sistem jaringan kabel listrik bawah tanah. Jadi, nggak ada yang namanya tiang listrik yang dapat mengganggu keindahan/estetika kota.

Tentang Batam lainnya:
- Penasaran Ada Apa di Batam?
- [Road Less Traveled] Pengalamanku Menjadi "Orang Pinggiran" Batam


"It's not just about the destination, but the journey"

(Desember 2012) 

6 comments:

  1. Replies
    1. Oi, bro Chris!
      Cakep-cakep, baca ga lu?
      Hahaha

      Delete
  2. Banyak yang bisa dieksplore ya... tertarik dengan kampung tua nya. Ada tulisan terpisahnya nggak? :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo bocahilang..
      Daerah2 non-touristy emang cukup menarik untuk dieksplor karena kita belum tahu pasti apa yg menjadi potensi daerah tsb.

      Sayangnya untuk Kampung Tuanya ga ada, gan..
      Di tulisan ini ane lebih membahas ke masalah sosial dan budaya, dengan harapan para pembaca jadi lebih peduli akan lingkungan sekitar yg mungkin sudah tertinggal.

      Delete